CARA BERPIKIR

Chairul Tanjung dalam buku Anak Singkong mengatakan bahwa sebagian besar ide yang dia dapatkan dalam bisnis berasal dari kamar mandi, saat dia benar-benar santai tanpa ada gangguan dari siapapun, bukan diruang kerjanya. Hukum Archimedes ditemukan secara tidak sengaja saat dia sedang santai berendam dipemandiannya, bukan dilaboratoriumnya. Saya sendiri merasakan sering mendapatkan ide saat sedang santai bersepeda atau berenang. Dalam kehidupan banyak sekali ide-ide baru didapatkan ketika orang sedang tidak focus pada masalah, malah saat pikiran sedang rilex dan santai.
Mengapa? Menurut peneliti dari University of California, Ada dua cara berpikir, yaitu FOCUS dan DIFUSS. Focus adalah saat kita sedang benar benar konsentrasi dalam memikirkan suatu hal, misalnya saat berpikir seperti mengerjakan soal ujian, bermain catur, membuat rencana dan lain-lain. Difuss adalah saat dimana pikiran berpendar, relax tanpa focus kepada satu hal, misalnya saat sedang berenang, berjalan, santai, dan lain-lain.
Manakah diantara dua cara berpikir tersebut yang terbaik untuk digunakan? Keduanya baik digunakan tergantung dari jenis masalah yang akan diselesaikan. Kalau kita sedang berpikir untuk sesuatu yang sudah ada dalam pikiran kita sebelumnya, misalnya saat sedang ujian dimana kita sudah belajar sebelumnya, maka diperlukan FOCUS. Disaat kita sedang mencari ide baru yang memang sebelumnya belum ada dipikiran kita, maka diperlukan DIFUSS. Kedua cara berpikir ini harus digunakan secara seimbang agar efektif. Terus menerus FOCUS tidak akan berdampak baik, begitupun sebaliknya. Ada masanyauntuk FOCUS dan ada masanya untuk DIFUSS.
Oleh karenanya, bagi pengusaha yang sedang menyelesaikan masalah-masalah dalam bisnisnya, ada baiknya tidak selalu FOCUS pada masalahnya sehingga stress. Cobalah untuk DIFUSS, berpikir santai, jalan-jalan, keluar dari masalah yang ada, karena saat kita santai dan tidak stress, maka saat itulah akan ada ide baru untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Seorang ilmuan matematika menceritakan bahwa ketika dia mentok dalam menyelesaikan penelitiannya, maka dia akan keluar bersepeda sekitar satu jam, dan saat dia kembali bekerja akan menemukan ide untuk menyelesaikan masalahnya. Albert Enstain mengatakan bahwa “Masalah tidak bisa diselesaikan dengan tingkat pemikiran yang sama pada saat masalah itu diciptakan”.